Cinta Dari Tuhan
Cerpen Karangan: Aida RizkinaKategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 27 October 2017
“Anisa ayo bangun sudah azan tuh,” panggil ibuku yang membangunkanku untuk sholat subuh. “iya umi iyaa” sahutku dengan nada yang malas,
Ya, aku anisa, gadis berusia 16 tahun, anak seorang pemuka agama pemilik pesantren di balangan kalimantan selatan.
“Anisa hari ini ikut sama abi ke pesantren ya, buat periksa keadaan di sana sekalian temenin abi kamu,” minta ibuku,
“males ah umi, di sana ada banyak orang yang gak aku kenal!” Sahutku,
“jangan begitu anisa sayang, kamu penerus abimu untuk mengelola pesantren itu, kamu anak yang sholeh kan, hayoo harus nurut sama umi dan abinya,” minta ibu lagi,
“iya deh umi, anisa mau”
“Abi, aku mau jalan jalan liat sekitar boleh ya?” Kataku. “iya, tapi jangan jauh jauh hati-hati, ingat pondok untuk perempuan yang gerbangnya biru, atapnya hijau, abi mau menemui para kiyai, ustadz dan ustadzah dulu, kamu jangan nakal, jaga diri” jelas ayahku
“iya abi, anisa paham kok, abi tenang aja” sahutku,
Aku pun jalan jalan di taman dekat moshola, “furqon, aku duluan ya, kamu selesaikan sisanya!” Terdengar suara, “iya, ya udah!” Sahut seseorang, tidak lama keluarlah seorang pemuda tampan dari mushola itu. Aku pun begitu terkejut dan tidak berani mengangkat kepala, “Aa a aku anaknya ustadz kholidi, aku jalan jalan terus, terus, sampai sini, maaf” ucapku sambil melangkah pergi, aku merasa begitu malu saat itu, karena aku tidak terbiasa bertemu laki laki ataupun berdekatan apalagi berbicara, karena keluargaku menjunjung tinggi agama dan begitu menjagaku.
Kulihat dua buah gerbang yang terpisah, “pondok pesantren wanita di mana ya?” Tanyaku dalam hati, “Aku lupa lagi pesan abi, ahh mungkin yang itu!? Aku masuk ke sebuah tempat yang membuatku malu setengah mati, saat aku membuka gerbang ternyata itu adalah pondok untuk laki laki, semua mata tertuju padaku, “wahh, subhanallah cantiknya, bukankah itu anaknya pak ustadz kholidi?” Kata seseorang, “ya ya, aku juga pernah melihat fotonya di ruangan pak ustadz saat membersihkan ruangannya” sahut seorang lagi.. “udah, udah sana semuanya masuk gak baik kita melihat seorang gadis seperti itu, ingat kita harus menjaga hati, dan pikiran kita” sahut seorang lelaki, ternyata dia adalah lelaki yang kutemui di mushola, aku tertegun mendengar perkataannya, entah kenapa mungkin aku jatuh hati, aku pun berlari keluar dari sana, tidak lama ayahku datang, dan melihatku menangis menahan rasa malu.
Sampainya di rumah
“udah aku bilang kan umi aku gak mau ke sana, sekarang aku jadi malu, dan aku gam mau lagi datang ke sana!” ucapku saat sampai di rumah dengan nada kesal,
“anisa kenapa bi?” Tanya ibuku, “tadi anisa salah masuk pondok umi, masuk ke pondok laki laki,” sahut ayahku, “astagfirullah, kenapa bisa jadi begitu, apa abi tidak bilangin sama anisa pondok wanita yanng mana?” Tanya ibu lagi, “sudah umi, tapi dia lupa, saat abi menemui kiyai, ustadz dan ustadzah, dia jalan sendiri, akhirnya sampai sana, abi pengen marah karena dia tidak hati hati juga tidak bisa, kasian dia sudah menanggung malu tambah lagi dimarahin, yang ada malah nanti ngambek lagi” jelas ayahku
5 tahun berlalu
“Anisa sekarang kamu sudah dewasa, tidak baik terus sendiri, abi dan umi sudah mencarikan jodoh untuk anisa, anisa mau kan?” Tanya ibuku
“apa? Kenapa umi tidak bicara dulu sama anisa, anisa belum siap umi, anisa gak mau” sahutku
“Anisa, abi dan umi mu ini kan sudah tua, kami ingin istirahat dan melihat kamu menikah lalu punya anak. Suami kamulah yang akan meneruskan mengelola pesantren abi, lagi pula abi sudah memilih calonya, dan abi yakin, dia pantas untukmu!” Ucap ayah ku,
“iya abi anisa mau, asal umi dan abi bahagia, anisa mau ke kamar dulu!” Sahutku dengan nada lemas, “bagaimana aku bisa menikah dengan orang lain, sedangkan di hatiku masih mengingat laki lako yang kutemui di mushola pesantren itu, furqon, aku menginginkan dia untuk menjadi suamiku, tapi ya sudahlah aku akan berusaha melupakannya dan membahagiakan orangtuaku” gumamku dalam hati,
Hari pernikahan pun telah tiba, dan sampai saat itu aku belum pernah melihat calon suamiku, aku hanya menunggu di kamarku sampai ijab kabul selesai,
Tiba waktunya aku keluar untuk bertemu suamiku, kagetnya aku, saat mengetahui bahwa suamiku adalah furqon, orang yang selama ini selalu kupikirkan, aku menangis bahagia dan langsung mencium tangan suamiku,
“terimakasih tuhan, engkau berikan jodoh terbaik untukku” ucapku dalam hati,
Selesai
Cerpen Karangan: Aida Rizkina
Facebook: www.facebook.com/Aida Rizkina
Nama: Aida Rizkina
Facebook: Aida Rizkina
ID Line: Sungminaeda
Comments
Post a Comment